Banten – TARGETINDO.COM – Dulu, nama Ratu Atut Chosiyah adalah gema kekuasaan di Banten. Ia bukan sekadar Gubernur, ia adalah simbol kekuasaan yang menjelma menjadi kerajaan. Banten bukan lagi dipimpin oleh rakyat, tapi oleh trah. Satu per satu keluarganya duduk di kursi kekuasaan: anaknya, iparnya, adiknya, bahkan menantunya. Seolah kekuasaan itu bisa diwariskan seperti warisan tanah dan sawah.
Tapi sejarah selalu punya cara untuk membalas keangkuhan.
Pilkada 2024 adalah babak yang tak pernah mereka bayangkan. Satu per satu, mereka tumbang. Andika Hazrumy kalah. Ratu Ria Maryana kalah. Airin yang dulu dielu-elukan, pun tumbang. Hanya satu nama yang tersisa: Pilar Saga Ichsan. Tapi satu lilin tak bisa menerangi istana yang roboh.
Apa yang sebenarnya tumbang? Yang tumbang bukan hanya orang-orang yang kalah di bilik suara. Yang tumbang adalah mitos. Bahwa kekuasaan bisa dibentengi dengan darah dan nama besar. Bahwa rakyat akan terus tunduk pada nama keluarga. Bahwa dinasti bisa menggantikan demokrasi.
Tapi rakyat Banten membuktikan: mereka bisa memilih, dan mereka bisa marah.
Mereka tidak memilih berdasarkan silsilah. Mereka memilih berdasarkan harapan. Mereka ingin pemimpin, bukan pewaris.
Dan inilah pelajaran besarnya: Jangan pernah takut dengan kekuasaan. Karena sebesar apa pun mereka tampak di layar televisi, sehebat apa pun mereka memoles citra, mereka tetap manusia. Mereka tetap tunduk pada kehendak rakyat. Dan kalau rakyat berani bicara, tahta bisa berubah menjadi reruntuhan.
Kita tidak dilahirkan untuk menjadi budak kekuasaan. Kita dilahirkan untuk menantangnya, untuk mengawalnya, untuk menjatuhkannya bila ia mulai lupa daratan.
Ratu Atut pernah menjadi lambang dari betapa kekuasaan bisa menjelma menjadi kerajaan keluarga. Tapi ia juga menjadi bukti bahwa kekuasaan bisa diruntuhkan.
Hari ini, kita berdiri di atas puing-puing dinasti. Bukan untuk menertawakan yang jatuh, tapi untuk mengingatkan diri: bahwa suara rakyat bukan hanya slogan. Ia nyata. Ia kuat. Ia bisa menjatuhkan siapa pun yang bermain curang dalam istana demokrasi.
Dan selama kita percaya pada kekuatan itu, tak ada kekuasaan yang layak ditakuti, Tidak Atut. Tidak siapa pun.
Yang perlu kita takuti hanyalah saat kita diam.
Karena diam adalah awal dari perbudakan, Dan berani adalah awal dari kemerdekaan.
Nurjaya Ibo


