Pandeglang – TARGETINDO.COM – Iip Suramiharja, NIP Nurahman atau biasa disebut di jejaring sosial dengan julukan Si Budak Angon, sosok asli kelahiran di Kampung Munjul RT. 05 RW. 03 Desa Munjul Kecamatan Munjul Kabupaten Pandeglang- Banten, Tepatnya 40 tahun yang lalu
Hal ini media peroleh informasinya saat silaturahmi dengan sosok laki-laki yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Munjul Kecamatan Munjul Kabupaten Pandeglang,
Namun ada hal yang media tanyakan secara inklusif juga sensitif terkait penggunaan kata NIP di nama sosok orang nomor satu di Desa Munjul tersebut, dirinya (Iip.red) menjelaskan pada media, bahwa kenapa dirinya menggunakan kata NIP di nama pribadinya, Iip menceritakan, seperti ini :
“Pernah seorang panitia kegiatan Paralegal Justice Award di BPHN Jakarta 2023 mengira saya salah menulis. Ia kemudian menghapus kata itu tanpa maksud yang buruk, menyangka saya keliru memasukkan kata NIP NURAHMAN ke kolom nama. Saya minta ia menuliskannya kembali. Ia heran, tetapi akhirnya menurut.
Saya katakan singkat padanya sambil bercanda, “Kalau kata itu hilang, saya jadi orang pertama. Padahal saya cuma penerus.” Ia mengangguk seakan mengerti, walau saya ragu ia benar-benar menangkap maksudnya.
Lebih lanjut, Iip menceritakan, bahwa menurutnya, dalam budaya Sunda, tidak mengenal Marga yang biasa dikenal dikalangan budaya Batak dalam penulisan nama sebagai identitas pribadi,
“Bagi kami orang Sunda tidak mengenal marga seperti orang batak! dan khususnya saya, kata itu adalah bentuk lain dari rasa terima kasih. Karena saya berpikir, jika kehidupan ini adalah sebuah sungai, maka saya keliru selama ini mengira diri saya sumber mata airnya. Saya bukan hulu. Saya cuma satu ruas arus sungai di tengah, yang menerima air dari kelokan-kelokan jauh di belakang, dari nama-nama yang tak pernah saya jenguk, lalu meneruskannya ke muara yang belum saya lihat sampai ke laut” ujar lebih lanjutnya
Iip juga menggambarkan, bahwa dirinya seperti sungai, dirinya pun akan bermuara juga ke laut pada akhirnya. Tiap nama yang dia tulis dengan kata di ujungnya sedang berjalan menuju satu tempat yang sama, tempat segala sungai kehilangan namanya dan menuju lautan luas.
“Saya tahu bahwa kelak di laut, semua air sama. Tak ada lagi hulu, tak ada lagi hilir (sama rata sama rasa), Namun bukan berarti perjalanan itu sia-sia. Sungai tidak mengalir supaya dikenang oleh laut. Ia mengalir karena begitulah caranya menghidupi tanah yang dilewatinya, Sawah dan Ladang di kiri kanannya menghijau bukan karena airnya abadi, melainkan karena ia sempat lewat, lalu merelakan diri pergi. ” kelakarnya sambil meminum kopi hitam
Begitupun Umur sebuah nama, Iip pun tidak diminta kekal, hanya diminta mengalir sebaik-baiknya selama masih berupa sungai
“Saya tidak berharap dikenang seratus tahun lagi. Saya cuma ingin, selama nama ini masih di tangan saya, ada yang menjadi lebih baik karena saya sempat lewat. Sesudah itu biarlah ia menghilang dengan tenang ke muara, seperti sungai yang tak pernah menoleh ke belakang untuk menghitung sawah mana saja yang telah ia hijaukan” tutupnya
Sosok Kepala Desa Munjul Kecamatan Munjul Kabupaten Pandeglang Banten, merypakan anak dari seorang ayah bernama H Amid Nurahman, dan seorang Ibu berma Hj Surmiah, dan memiliki pasangan seorang Istri bernama Aisyah dengan dikaruniai tiga putra dan putri


